Air Gila
Jika ada yang bilang pengalaman adalah guru yang terbaik, nampaknya saya pribadi menyatakan antara kurang setuju dan setuju. Kurang setuju karena terkadang pengalaman pribadi mampu menghadirkan suatu trauma tersendiri bagi si pelaku jika salah dalam menyikapinya. Setuju karena pengalaman adalah guru yang paling jujur dan demokratis di dunia. Misalnya, suatu pengalaman sakit perut yang amat sangat karena menahan kelaparan. Pengalaman tidak akan berbohong pada perut bahwa dalam keadaan lapar perut terasa sangat kenyang. Demokratis, siapapun yang mengalami pengalaman hidup entah kesedihan atau kesenangan berhak secara bebas menafsirkan dan mengambil hikmah dari kejadiaan. Mau mengambil hikmah dari sisi buruknya atau sisi baiknyakah atau kedua-duanya bahkan tidak kedua-duanya sah-sah saja tanpa ada yang melarang. Tidak ada yang akan menilai kita dengan mengatakan benar atau salah dan memberi nilai numerik segala sesuatu yang kita tafsirkan.
Kembali berbicara tentang pengalaman, saya mempunyai beberapa kisah menarik dari sekian pengalaman yang tidak pernah saya hitung jumlahnya. Kali ini tentang kisah dengan salah satu benda cair ciptaan Ilahi yang sangat mempengaruhi hidup saya hingga sekarang. Air. Semua makhluk hidup pasti sangat cinta dengan satu benda ini. Sumber kehidupan yang sifatnya sangat istimewa. Mandi, minum, dan segala aktivitas lainnya tidak dapat lepas dengan benda kesayangan umat ini. Tapi bagaimana kalau pengalaman saya dengannya mampu menghantarkan pada peregangan nyawa, antara keberuntungan dan kesialan, hidup dan mati. Beginilah kisah yang kuberi judul “air gila”. Mengapa kuberi nama seperti itu, karena atas nama imajinasiku sendiri yang begitu bergairah. Tidak ada yang akan boleh menyalahkan, termasuk Anda yang saat ini sedang membaca tulisan ini.
Kejadian ini terjadi ketika aku masih berumur kira-kira empat tahun. Saat itu aku belum pernah merasakan bernyanyi bersama di runag kelas dan bermainan ayunan di lapangan inpres, aku belum sekolah TK. Seperti biasa, pagi itu aku dihampiri teman-teman sejawat utnuk bermain bersama, tapi belum sampai lama kita puas bermain, hujan turun sangat lebat. Niat para anak kecil untuk bermain di luar pun kembali urung tatkala melihat cuaca yang sangat buruk. Beberapa jam kemudian yang diharapkan pun terjadi, hujan reda. Langsung berpamitan pada ibu yang kebetulan tengah sibuk mengepel karena bekas rintikan air hujan yang masuk teras tanpa permisi. Ibu mengiyakan, dengan syarat tidak boleh main ke sungai karena arus sungai yang lumayan deras dan tepian yang begitu licin sangat berbahaya. Aku asal anggukan kepala saja dan bergegas keluar rumah.
Sudah bosan bermain di halaman tetangga, kami berencana ke sungai untuk mencari daun kumis kucing. Semua terjadi tanpa rencana. Tiba di pinggir sungai, masih ingat betul kala itu posisi kami di tepi bagian utara. Aku yang berada di posisi paling depan memimpin barisan untuk menyeberang sungai. Arusnya lumayan deras, tapi kami tetap nekat saja. Belum sampai ke tengah sungai batin si keci-kecil ini takut dan berniat kembali ke tepian utara. Balik badan dan menuju kembali ke tempat semula. Otomatis posisiku sekarang berada di paling belakang. Tidak disangka kakiku yang mungil terpeleset batu dan tubuhku terhembas arus. Mengalir begitu saja di kedalaman air. Ironisnya temanku tidak menyadarinya. Beberapa meter dari tempat kejadian ada tetanggaku yang kebetulan di pinggir sungai. Untungnya dia menyangka rambutku yang timbul tenggelam itu adalan tas kresek yang hanyut. Dijambak olehnya rambutku yang dikira tas kresek itu, dan aku langsung mendengar suara orang menjerit histeris,”Lailahailallah…!Ini anak orang!
Begitulah cerita masa kecilku yang hingga sampai saat ini kurasakan dampaknya. Aku trauma pada air. Tapi jangan salah, takut air bukan lantas tidak mandi sama sekali. Dalam keadaan air yang tertentu saja aku terkadang sangat takut. Merasa gulungan ombak laut dan arus sungai kadang-kadang seperti menari-nari geli dan menghinaku. Genangan air kolam yang diam saja itu terasa ada sesuatu di dalamnya, seperti benda-benda aneh yang suka menarik-narik kaki yang terjun di dalamnya. Makanya kisah ini kuberi nama “air gila”. Kadang juga penamaan ini kurasa aneh. Airnya yang gila atau akunya yang…. Entah lah.